Love that smiles

Love that smiles

Sunday, May 19, 2013


MOM, DAD, and I

“Hari ini Ayah sama Bundaku mau mengajar di sekolah, loh!” celoteh seorang anak. Anak yang lain pun tersenyum dan berkata bangga, “iya.. asiiik yaa.. kemaren Umi sama Abiku kan udah datang ke sekolah.”

Wah.. wah.. wah… kenapa ayah sama bunda yang jadi mengajar di sekolah ya? Lalu kemanakah perginya guru-guru? Eiiits.. tunggu dulu, ini sebenarnya adalah program rutin yang ada di sekolah 9 Mutiara. Program ini bertajukan “Mom, Dad, and, I”. Setiap minimal setahun sekali, setiap orangtua diundang untuk ikut mengajar di kelas anaknya masing-masing. Biasanya penjadwalan diatur sedemikian rupa secara bergiliran dan saat orangtua bisa menyisihkan waktu di sela-sela kesibukannya.


Apa sih tujuan dari program ini? Selain untuk berbagi ilmu, tujuan dari program ini adalah agar orangtua lebih mengetahui kondisi dan pembelajaran di kelas. Kerjasama antara orangtua, sekolah, dan anak pun dapat lebih terjalin erat. Selain itu, biasanya anak-anak pun merasa bangga jika orangtua mereka dapat menyisihkan waktunya untuk berbagi bersama teman-temannya.  
Cooking at Chrysant Class with Mama Naura

Lalu kira-kira orangtua mengajar apa ya? Matematikaa? IPA? Atau Olahraga? :D Nah, yang menarik orangtua bebas menentukan tema apapun yang akan diajarkan pada anak-anak sesuai dengan tema di kelas atau keahlian mereka. Ketika melakukan kegiatan di kelas mereka dibantu oleh sang anak. Sehingga akan terlihat kekompakan antara orangtua dan anak.

Subhanallah, ternyata orangtua keren-keren loh! Ada yang menyuguhkan story telling, role play,, quiz, games, cookery,, menari,  sampai ke membuat boneka. Walau pun kadang masih ada orangtua yang bingung, kira-kira akan melakukan kegiatan apa di kelas, tapi biasanya team teaching di kelas siap membantu untuk sumbang ide.
 Anggrek Class Quiz with Ayah & Bunda Zaki

Tentu saja anak-anak pun tak kalah senangnya. Mereka biasanya sangat antusias ketika acara berlangsung. Mereka pun biasanya tidak sabar menunggu hari saat giliran orangtua mereka tiba. Setelah acara selesai biasanya orangtua diberikan kenang-kenangan berupa hasil karya yang dibuat oleh anak-anak. Thank you Mom and Dad, you’re our best partner ever!!! 

Friday, May 3, 2013


Trip to Kampung Adat Cireundeu

(Kamis, 2 Mei 2013)

Permainan hayam-hayaman
Pagi ini, anak-anak kelas 1-3 senang sekali. Kenapa ya? Wah, ternyata mereka akan fieldtrip ke Kampung adat Cireundeu! Fieldtrip ini merupakan bagian dari program sekolah 9 Mutiara, dari PG sampai SD. Tujuannya agar anak-anak dapat belajar dan melihat langsung dari lingkungan sekitar bukan hanya di dalam kelas. Tempat tujuan disesuaikan dengan tema yang sedang mereka pelajari.

Pada fieldtrip kali ini, sekolah memilih kampung adat Cireundeu sebagai tempat tujuan. Kampung ini terletak di daerah Leuwigajah, Cimahi. Tempatnya masih cukup asri dengan topografi yang berbukit. Masyarakat di Kampung ini memiliki adat dan kebiasaan yang unik. Mereka memiliki prinsip hidup sebagai berikut: “Teu Nyawah asal boga Pare, Teu Boga Pare asal Boga Beas, teu boga Beas asal bisa Nyangu, teu Nyangu asal Dahar, teu Dahar asal Kuat”, yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Mohon kekuatan ini harus kepada Yang Memiliki, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

 Prinsip tersebut mereka terapkan dengan tidak memakan nasi. Wah.. padahal nasikan bahan makanan pokok orang Indonesia sehari-hari ya? Nah, sebagai pengganti nasi itu mereka memakan Rasi (beras singkong). Rasi disini sebenarnya adalah singkong yang diolah menjadi pengganti nasi bagi mereka bukan beras yang berasal dari padi.

Sesampainya di Kampung Cireundeu, anak-anak disambut dengan ramah oleh penduduk di sebuah bale yang cukup nyaman. Setelah pembukaan dan sambutan, anak-anak pun diceritakan mengenai sejarah Kampung Cireundeu, terutama tentang bagaimana awalnya mereka memilih untuk tidak memakan nasi dan memilih singkong sebagai bahan alternative pangan.

Setelah itu anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama praktek cara membuat Rasi, kelompok 2 membuat kue olahan singkong, dan kelompok ketiga bermain permainan tradisional Jawa Barat seperti oray-orayan, perepet jengkol, dan hahayaman. Setelah itu setiap kelompok bergantian agar dapat ikut di semua kegiatan. Setelah selesai, anak-anak disuguhi pula awug (makanan khas Sunda) dan ada penutupan dari penduduk Cireundeu.

Ketika pulang pun anak-anak dibekali oleh-oleh berupa makanan olahan singkong. Wah.. senangnya. Sungguh perjalanan yang menarik. Terimakasih akang teteh atas penerimaannya yang ramah dan baik. Ayo anak-anak, kita bikin laporannya yang menarik yaaa


Semut Lovers Concerto
Semut mini orchestra


Di hari Jum’at yang cerah ini, tepat tanggal 3 Mei 2013, anak-anak SD 9 Mutiara -semuters yang imut- sudah bersiap-siap untuk mengadakan konser musik mereka. Dengan kostum hitam-hitam yang tampak elegan dan jinjingan alat music mereka tampak bersemangat. Apalagi melihat para pengunjung yang sudah mulai berdatangan dan mengantri untuk masuk ke tempat pertunjukkan dengan menunjukkan tiket mereka.
Jimbae dari Fauzan dan Tyo

Acara ini memang sudah dipersiapkan sekitar sebulan sebelumnya dan merupakan bagian pelajaran music.  Dua minggu sebelumnya anak-anak  sudah memasang berbagai poster yang mereka buat sendiri untuk menarik perhatian pengunjung agar membeli  tiket yang harganya hanya lima ribu rupiah. Tiket tersebut nantinya dapat ditukar dengan snack dan minuman. Syukurlah antusiasme teman-teman yang lain serta para orangtua begitu besar, sehingga tiket pun terjual laris manis. ^.^

Farel sang keybordist
Ketika tiba waktunya pertunjukkan, anak-anak masuk berbaris dengan rapi dan memulai penampilan pertama mereka dengan lantunan dari mini orchestra. Wah, suasana langsung berubah menjadi hening. Mini orchestra ini pun kemudian satu per satu membawakan lagu-lagu seperti boneka abdi, ibu kita kartini, sampai lagu I have a dream. Di sela-sela pertunjukan dari mini orchestra, penonton pun disuguhi penampilan music perorangan dari mulai permainan biola,  keyboard, jimbae, karinding, nyanyian, sampai ke tarian.


Thoriq sang violin player
Waaa.. sungguh pertunjukan yang menarik. Semua penonton pun memberikan apresiasi yang luar biasa. Apalagi pada konser ini anak-anak berkebutuhan khusus pun mendapat kesempatan untuk tampil mempertunjukan kebolehannya. Inilah esensi dari sebuah pendidikan inkusif, dimana setiap anak mempunyai kesempatan yang sama. Bahkan teman-teman yang lain pun mensuport dan mengapresiasi mereka dengan sangat baik. Pertunjukan ditutup dengan dibawakannya lagu Bunda dan Hymne guru yang membuat para orang tua (dan guru-guru) menitikkan air mata, setelah itu anak-anak pun segera menghampiri orangtua masing-masing danmemeluk serta menyampaikan rasa sayang mereka.
Kiki in action

 
Setelah pertunjukan tersebut, semua anak-anak dan orangtua diajak untuk berdoa bersama untuk mendoakan kakak-kakak kelas 6 yang akan menghadapi UN hari Senin depan. Mudah-mudahan mereka dilancarkan dan dimudahkan dalam pengerjaannya, dan kelak mereka menjadi anak-anak yang sukses dan bermanfaat bagi Nusa, Bangsa, dan Agama. Amiin.

Really proud of you kiddos!! And thanks to parents and all the teacher… ^.^